Urgensi Evaluasi Hasil Pembelajaran dalam Pendidikan

 

Urgensi Evaluasi Hasil Pembelajaran dalam Pendidikan

 

      Evaluasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu evaluation. Wand dan Brown dalam Djamarah dan Zain menjelaskan  bahwa evaluation refer to the act or process to determining the value of something. Artinya, evaluasi merupakan suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Sedangkan menurut pengertian istilah  merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu obyek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur untuk memperoleh kesimpulan. Davies mengemukakan bahwa evaluasi merupakan proses sederhana memberikan/menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang, objek dan masih banyak yang lain.

Evaluasi artinya peniliaian terhadap tingkat keberhasilan peserta didik mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Padanan kata evaluasi adalah assessment yang menurut Tardif berarti proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang peserta didik sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Selain kata evaluasi dan assessment ada pula kata lain yang searti dan relatif lebih masyhur dalam dunia pendidikan kita yakni tes, ujian, dan ulangan. Evaluasi dapat juga diartikan sebagai bentuk penilaian dari sebuah tindakan atau proses segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pendidikan. Dalam bahasa Arab evaluasi dikenal dengan istilah imtihana yang berarti ujian, bisa juga dengan al-qiimah atau al-taqdiir, yaitu nilai.

Dari definisi tersebut dapat diartikan bahwa evaluasi adalah proses penilaian yang dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang keberhasilan suatu tindakan

Proses pembelajaran merupakan bagian terpenting dalam pendidikan sebagai upaya mendewasakan peserta didik, sebagaimana dinyatakan Langeveld (2005, 2) bahwa pada dasarnya pendidikan bertujuan untuk mendewasakan anak/peserta didik. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi kunci bagi keberhasilan pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, pelaksanaan proses pembelajaran harus benar-benar diefektif kan dan harus berjalan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

menurut Bloom dalam taksonominya bahwa sasaran proses pembelajaran yang dilaksanakan harus mengarah kepada tiga ranah dari peserta didik, yaitu : Ranah Kognitif, Ranah Afektif, Ranah Psikomotorik.

Menurut Ramayulis (2005 : 24) Garapan masing-masing ranah seperti disebutkan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

 

1. Kognitif

Domain ini mencakup enam daerah garapan, yaitu; Pengetahuan, yaitu kemampuan mengingat konsep-konsep yang khusus dan yang umum, baik menyangkut proses, metode, maupun struktur; Pemahaman, yaitu kemampuan memahami tanpa mengetahui hubungan-hubungannya dengan yang lain, juga tanpa kemampuan engaplikasikan

pemahaman tersebut; Aplikasi, yaitu kemampuan menggunakan konsep-konsep abstrak pada obyek-obyek  husus dan konkret, baik berupa ide-ide umum, prosedur prinsip-prinsip teknis, atau teori yang harus diaplikasikan; Analisis, yaitu kemampuan memahami dengan jelas hirarkhi ide-ide dalam suatu unit bahan atau dapat menerangkan dengan jelas tentang hubungan ide-ide yang satu dengan yang lainnya; Sintesis, yaitu kemampuan menggabungkan bagian-bagian menjadi satu dengan utuh, sehingga menjadi sebuah struktur yang jelas; Evaluasi, yaitu kemampuan dalam mempertimbangkan nilai bahan dan metode yang digunakan dalam menyelesaikan suatu problem.

2. Afektif

Domain ini mencakup lima daerah garapan, yaitu; Memperhatikan, yaitu memperhatikan pembinaan dan  emberian nilai-nilai yang diajarkan dengan kesediaannya melalui upaya motivasi agar peserta didik mau menerima nilai yang diajarkan. Selain menerima nilai, pada diri peserta didik juga memiliki daya yang mendorong diri untuk menerima ajaran yang ajarkan kepadanya; Nilai, yaitu pembinaan yang diarahkan untuk mampu menilai konsep atau fenomena apakah ia baik atau buruk; Organisasi / menghayati nilai, yaitu pembinaan untuk  engorganisasikan nilai ke dalam suatu sistem dan menentukan hubungan antara nilai-nilai tersebut, serta  menentukan nilai yang dominan untuk diinternalisasikan ke dalam kehidupan nyata; Mempribadikan nilai, yaitu pembinaan untuk menginternalisasikan nilai sebagai puncak hirarki nilai yang tertanam secara konsisten pada sistem di dalam dirinya, efektif mengontrol tingkah laku dirinya serta mempengaruhi emosinya. menggabungkan diri ke dalam nilai-nilai yang diajarkan tersebut; Merespon, yaitu pembinaan.

3. Psikomotor

Dominan ini memiliki tujuh daerah garapan yaitu; Persepsi, yaitu keterampilan dalam menggunakan organ-organ indera untuk memperoleh petunjuk yang membimbing kegiatab motorik; Kesiapan, yaitu keterampilan kesiapan untuk melakukan kegiatan khusus, yang meliputi kesiapan mental, phisik maupun kemauan untuk bertindak; Respon terbimbing, yaitu keterampilan respon terpimpin dalam melakukan hal-hal yang kompleks, seperti :

menirukan dsb. Keterampilan mekanis, yaitu merupakan pekerjaan yang menunjukkan bahwa respon yang dipelajari telah menjadi kebiasaan dan gerakan-gerakan dapat dilakukan dengan penuh kemahiran; Respon

kompleks, yaitu keterampilan nyata gerakan motor yang menyangkut penampilan yang sangat terampil dari gerakan motoriknya. Kemahiran ditunjukkan seperti kecepatan lancar dan tepat dsb; Adaptasi, yaitu keterampilan untuk mengubah pola gerakannya untuk disesuaikan dengan persyaratan khusus dalam situasi tertentu; Organisasi, yaitu keterampilan yang menyangkut pola-pola gerakan yang baru untuk menyesuaikan dengan situasi yang khusus atau yang bermasalah.

EvaluasiPendidikan

1.Bagi Guru

Bagi  guru,  evaluasi  dapatmengetahui  sejauhmana  keberhasilan  KBM.  Dengan evaluasi  dapat  diketahuisiswa-siswa  mana  yang    memahami  pelajaran  dan  siswa yang  kurang memahami atau  belum  menguasai  materi. Dengan  mengetahui  hasil belajar   siswa,   guru   dapat memberikan   perhatian   pada   siswayang   kurang pemahamannya.  Hasil  evaluasi  juga  bisa  digunakan  untuk  mengetahui  apakah materi  yang  diajarkan  telah  tepat  bagi  siswa  atau  tidak,sehingga  bisa  dijadikan pedoman pada  pembelajaran  yang  akan  datang. Guru  juga  bisa  mengetahui  apakah metode yang digunakan dalam mengajar sudah tepat atau belum.

 

2.Bagi Siswa

Hasil  yang  diperoleh  siswa  dalam  evaluasi  adadua  macam  yaitu  memuaskan atau tidak   memuaskan.   Hasil   yang   memuaskan   akan   menyenangkan   dirinya sehingga  dapat  meningkatkan  motivasi  siswa  untuk  mencapainya  di  lain  waktu. Sebaliknya,  hasil  yang  tidak  memuaskan  dapat  digunakan  sebagai  pelajaran  agar berusaha untuk mendapatkan hasil yang lebih baik di waktu lain.

3.Bagi Sekolah

Dengan  evaluasi,  sekolah  bisa  menunjukkan  kualitas  pelayanannya  terhadap siswa  dalam  pembelajaran  guna  mencapai  kualitas  pendidikan  yang  diinginkan sehingga sekolah mampu bersaing dengan sekolah lain dan pada akhirnya mendapat tempat  yang  layak  di  hati  masyarakat. Kualitas  sekolah  dapat  dari  hasil  belajar siswa. Hasil  belajar  siswa  dapat  dijadikan  sebagai  pedoman  oleh  sekolah  untuk mengetahui   kualitas   pembelajaran   yang   berlangsung   di   sekolah.   Hasil   belajar merupakan cerminan dari kualitas suatu sekolah. Hasil evaluasi dari tahun ke tahun juga bisa digunakan sebagai pedoman apakah  yang dilakukan sekolah sudah sesuai standar atau belum.

Instrumen Evaluasi

Instrument  evaluasi  adalah  alat  evaluasi  yang  digunakan  untuk  mengetahui perubahan  prilaku  siswa.  Instrumen  evaluasi  dapatberupa  tes  dan  nontes. Tes  adalah suatu  alat  atau  prosedur  yang  sistematis  dan  objektif  untuk  memperoleh  data  atau keterangan  yang  diinginkan  tentang  seseorang,  dengan  cara  yang  tepat  dan  cepat. Tes merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan dalam rangka melaksanakan kegiatan pengukuran yang didalamnya terdapat berbagai pertanyaan atau serangkaian tugas yang harus dijawab atau dikerjakan oleh peserta didik untukmengukur aspek prilaku peserta didik. Instrumenevaluasi  non-tesdigunakan  untuk  mengukurperubahan  sikap  dan  pertumbuhan  peserta didik dalam psikologi. Teknik ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara seperti: observasi,  wawancara,  skala  sikap,dan  kuesioner.  Gurusebagai  seorang  evaluator  dapatmenggunakan  hasil  evaluasi  instrument  non-tes  ini  sebagai  pertimbangan  dan  laporan pencapaian  hasil  belajar  karena  jika  data  yang  dikumpulkan  hanya  menggunakan  tes saja maka data yang dikumpulkan menjadi kurang lengkap dan tidak bermakna, bahkan dapat merugikan pihak-pihak tertentu.

Langkah Pengembangan Instrumen Tes

1.Menyusun spesifikasi tesLangkah pertama    ini    berisi    tentang    uraian    yang    menunjukkan keseluruhan  karakteristik  yang  dimiliki  sebuah  tes.  Spesifikasi  yang  jelas  akan mempermudah  dalam  menulis  soal,  dan  siapa  saja  yang  menulis  soal  akan menghasilkan  tingkat  kesulitan  yang  sama.  Langkah  ini  mencakup  kegiatan: menentukan tujuantes,  menyusun  kisi-kisites,  menentukan  bentuk tes,  dan menentukan panjang tes.12Sebelum melakukan langkah yang lain dalam langkah pengembangan tes seorang   pembuat   tes   harus   menentukan   tujuan   tes   tersebut.   Dalam   dunia pendidikan tes bisa mempunyai tujuan antaralaintes penempatan (penempatan), tes diagnostik, tes  formatif, dan tes sumatif. Setelah tujuan tes ditentukan  maka seorang  pembuat  tes  bisa  melakukan  langkah  yang  selanjutnya  karena  telah mengetahui dan menentukan tujuan tes yang akan dibuatnya. Kisi-kisi  merupakan  tabelmatrik  yang  berisi  spesifikasi  soal-soal  yang akan  dibuat.  Kisi-kisi  merupakan  acuan  bagi  penulis  soal,  sehingga  siapapun yang  menulis  soal  akan  menghasilkan  soal  yang  isi  dan  tingkat  kesulitannya relatifsama. Bentuk  tes  objektif    bisa  berupa  tes  pilihan  ganda,  benar  salah, menjodohkan,  dan  uraian  objektif.  Selain  itu  ada  juga  tes  non  objektif  yang biasanya  digunakan  dalam  ilmu-ilmu  social.  Pemilihan  bentuk  tes  yang  tepat tergantung  pada  tujuan  tes,  jumlah  peserta,  alokasi waktu,  cakupan  materi,  dan karakteristik mata pelajaran yang diujikan.

2.Menulis soal tes

Setelah  tujuan,  panjang  tes,  dan  kisi-kisi  tes  ditentukan  langkah  kedua adalah   menulis   tes.   Seorang   guru   bisa   memulai   menulis   tes   yang   telah ditentukan  tersebut.  Bentuk  dan  panjang  tes  bisa  berdasarkan  tes  yang  pernah diberikan pada siswa atau bisa diambil dari bank soal yang ada.

3.Menelaah soal tes

Kegiatan  menelaah  soal  perlu  dilakukan  untuk  memperbaiki  soal jika masih  ditemukan  kekurangan  atau  kesalahan.  Kegiatan  ini  lebih  baik  dilakukan oleh  orang  lain  atau  oleh  sejumlah  orang  yang  terdiri  dari  para  ahli  yang kompeten.  Harapannya  akan  dihasilkan  tes  yang  berkualitas  dan  sesuai  dengan tujuan tes.

4.Melakukan ujicoba tes

Sebelum dilaksanakantes  yang  sebenarnya,  perlu dilakukan uji  coba terlebih  dahulu  untuk  memperbaiki  kualitas  tes.  Uji  coba  digunakan  sebagai sarana untuk memperoleh data empiric tentang tingkat kebaikan soal yang telah dibuat   sehingga   diperoleh data   mengenai:   validitas,   reliabilitas,   tingkat kesukaran, pola jawaban, efektifitas pengecoh, daya beda, dan lain-lain.

5.Menganalisis butir soal

Telah  dijelaskan  bahwa  dari  uji  coba  yang  dilakukan  akandiperoleh informasi  penting  tentang  kualitas  soal  yang  disusun.  Oleh  karena  itu  hasil  uji coba  perlu  ditelaah  kembali  tiap  butir  soal  seperti  butir  soal  tersebut  valid  atau gugur,  susunan  bahasanya,  tingkat  kesukaran,  daya  pembeda,  dan  efektifitas pengecoh.

6.Memperbaiki tes

Setelah dilaksanakanuji cobates dan ditelaah maka langkah selanjutnya adalah  memperbaiki  tes. Langkah  ini  biasanya  dilaukan  atas  butir  soal  yaitu dengan memperbaiki  masing-masing  butir  soal  yang  ternyata  masih  belumbaik.Ada  kemungkinan  beberapa  butir  soal  yang  sudah  baik  harus  direvisi  dan  ada beberapa  yang  lain  mungkin  harus  dibuang  karena  tidak  memenuhi  standar kualitas yang diharapkan.

7.Merakit tes

Setelah  semua  butir  soal  dianalisis  dan  diperbaiki,  langkah  selanjutnyaadalah  merakit  butir-butir  soal  tersebut  menjadi  satu  kesatua  tes.  Butir  tes tersebut perlu disusun secara hati-hati menjadi satu kesatuan soal  yang terpadu. Dalam merakit soal, hal-hal yang menyangkut validitas soal seperti nomor urut, bentuk  soal,  lay  out  perlu  diperhatikan.  Hal  ini  penting  karena  walaupun  butir-butir  soal  sudah  baik  tetapi  penyusunannya  sembarangan  dapat  menyebabkan soal tersebut menjadi tidak baik.

8.Melaksanakan tes

Pelaksanaan  tes  merupakan  kegiatan  inti  dimana  soal  yang  telah  dirakit diberikan   kepada   testee   untuk   diselesaikan   sesuai   waktu   yang   ditentukan. Pelaksanaan  tes  perlu  pemantauan  tes  tetapi  diharapkan  pengawasan  tersebut tidak mengganggu pelaksanaan tes itu sendiri. Peserta tes tidak boleh terganggu dengan kehadiran atau aktifitas pengawas tes karena hal tersebut akan berakibat pada   tidak   akuratnya   hasil   tes.Artinya   pelaksanaan   tes   harus   didesain sedemikian rupa agar berjalan dengan seobjektif mungkin.

9.Menafsirkan hasil tes

Hasil  tes  menghasilkan  data  kuantitatif  yang  berupa  skor.  Skor  ini kemudian ditafsirkan menjadi nilai, yaitu rendah, menengah, atau tinggi. Tinggi rendahnya  nilai  ditentukan  oleh  acuan  yang  digunakan  yaitui  acuan  norma  atau kriteria.  Nilai  merupakan  alat  yang  berguna  untuk  memotivasi  siswa  dalam belajar  dan  guru  dalam  mengajar.  Dengan  mengetahui  nilai  pencapaian  belajar siswa  dapat  menyusun  rencana  perbaikan  bisa  juga rewardatas  jerih  payahnya belajar sehingga menjadikan semangat untuk mencapaianya.

 Referensi : 

1. http://jurnal.umt.ac.id/index.php/RausyanFikr/article/view/4183/pdf 

2. https://ejournal.unuja.ac.id/index.php/edureligia/article/view/758/443

3. http://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/fikrotuna/article/view/2954/2161

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urgensi Pengembangan Kurikulum

Urgensi dan Studi Kasus Jaringan Komputer untuk Pendidikan

Model Konsep Kurikulum